Welcome to The USA

 

Hmm… sudah baca #CeritaPart 1 kan, nah sekarang ini lanjutannya, setelah semua proses visa selesai, mulai pesen tiket tanggal 15 September 2017 dengan rute Surabaya – Hongkong – Boston. Kebiasaan para traveler, jika ingin bepergian, saking senengnya, galau karena nunggu waktu, kok gak berangkat-berangkat, apalagi secara ini rute United States of America. Akhirnya saya iseng melakukan re-route dari tanggal 15 September menjadi 11 Agustus 2017, saking sudah gak sabarnya pengen melihat Amerika. Karena pesen tiketnya online lewat Traveloka, proses re-route pun ternyata harus lewat Traveloka tidak bisa langsung lewat maskapai. Awalnya saya datang ke kantor Cathay Pacific, di lantai 7 Plaza BRI, sang costumer service bilang, bahwa “keberangkatan tanggal 11 Agustus sudah full mas”, ucapnya.

 

Naik lift balik ke meja kantor dengan putus asa, yah ternyata gak bisa dimajukan, tapi saya inget nasihat sang costumer service Cathay Pacific tadi, “coba hubungi pihak Traveloka nya saja mas” karena proses re-route ada di mereka , saya hubungi Traveloka, “Mbak saya mau re-route tiket Surabaya Boston dari 15 September menjadi 11 Agustus, “Baik pak, ini masih ada seatnya “. Allahu Akbar, ternyata seat nya masih ada dan bisa di re-route tanggal tersbut, beginilah kalo sudah ada jalan, meski buntu pun, tetap bisa lewat, karena di dunia ini tidak ada yang kebetulan, semua terjadi atas kehendak Allah, dan tiket saya berhasil berubah menjadi 11 agustus 2017.

Persiapan berangkat, mulai packing, seperti biasanya, saya kurang bisa makan seperti spaghetti, steak dan makanan keren lainnya, maklum lidah jawa, jadi barang bawaan paling banyak adalah makanan, mulai dari masako, indomie berbagai macam rasa, mie sedap, nastar, pastel buatan ibu, abon, sambal bon cabe bahkan beras 5 Kg semuanya ada dalam sebuah koper besar, dan saya gak tahu ke Amerika ternyata dilarang membawa makanan dan sejenisnya, karena bakal susah pada saat di imigrasi, dan ini baru saya ketahui, setelah saya baca blog para traveler. Barang sudah terlanjur masuk bagasi, kebetulan saya dapat kuato free baggage 23 Kg, dan barang yang saya bawa 22,9 Kg, kurang dikit lagi bakal kena charge, untungya enggak.

Keesokan harinya, tepat hari jumat, mulai saya berangkat ke terminal 2 juanda Surabaya, karena rutenya melalui hongkong, tentu bertemu dengan saudara-saudara kita (TKI) yang juga akan ke Hongkong. Menggunakan pesawat Boeing 737-800 dengan nomor CX 780 saya mulai terbang Surabaya Hongkong dengan jarak tempuh 5 jam perjalanan. Meski sudah sering terbang, tapi setiap menuju tempat baru buat traveling, Perasaan seneng tetap ada,

Suguhan pesawat Cathay Pacific, lumayan sama seperti Singapore Airlines, jika menu menu daging dalam pesawat saya tidak pernah makan, takut keliru daging “Sapi Kaki Pendek”, jadi yang saya makan cuman roti, sayur sama es krim, paling minumnya kopi. Secara layanan, maskapai ini boleh dibilang sama dengan SQ, pelayananya cukup oke, meski harganya relativf terbilang agak malang ketimbang maskapai low cost carrier, tapi kan sesuai pepatah “ada harga ada rupa”, harga sebanding dengan layanan yang didapatkan. Untuk kursinya sendiri saya baru tahu, kalo ternyata di Cathay selain kelas Ekonomi, ada kelas Ekonomi Premium yang kursinya relatif lebar, tapi masih lebih kecil dibanding Bisnis Class.

Perjalanan 5 jam, sampailah saya di bandara Hongkong International Airport. Salah satu bandara terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 500 gate, dulu padahal saya pergi ke Hongkong itu merupakan destinasi utama, eh sekarang hanya buat transit doing selama 4 jam, begitulah proses hidup, yang dulu kita anggap wah, pada suatu titik, itu hanya akan menjadi suatu hal yang biasa.

Mengisi waktu transit, selain selancar internet saya mengisinya dengan makan cemilan pastel buatan ibu, memang hanya sebuah kue pastel, tapi kalo ibu yang buat itu barokah dan keramat, mungkin karena barokah doa ibu juga, sehingga bagiku keliling bumi terasa  jalan sejengkal. Terus aja nyemil sampai jam menunjukkan pukul 17.40 waktu Hongkong, saya mulai ngantri di gate 35 tertulis “ HONGKONG – BOSTON “.

Antrianya udah kayak ngantri sembako waktu mau naik pesawat, tapi ini yang layak diacungi jempol, mereka berjajar rapi, dan sudah tidak saya temui orang Indonesia di deretan penumpang, semua orang ngomongnya Bahasa endespray..endespray, dan petugas Cathay itu jalan, tidak berdiri di tempat, mereka jalan ngeceki tiket penumpang, jadi prosesnya cepat meski antrianya panjang.

Berbeda dengan negara lain, kalo udah naik pesawat ya udah kan ya, kalo ke Amerika mau naik pesawat, mau naik nih, kopernya di cek lagi, dibongkar lagi, untungnya, di koper kecil hanya isi pakaian, andai isi makanan, bisa dibuang semua sama mereka.

Di pesawat dengan perasaan super gembira, menuju United States of Amerika, negara super power, yang dulu hanya bisa saya lihat di layar televisi, dan sebentar lagi mau saya jelajahi.

Penerbangan Hongkong – Amerika membutuhkan waktu 21 jam, tentu bukan waktu sebentar, ini penerbangan saya paling jauh selama naik pesawat, rekor terakhir sih, Jakarta – Milan, Surabaya – Jordan, itupun hanya 10 jam an, ini 21 jam bung, bisa makan tidur, bangun makan lagi.

Di dalam pesawat bahasanya udah “What’s your point” udah gak ada Bahasa Indonesia apalagi boso jowo, kulit penumpangnya juga udah bergeser dari sawo matang ke kulit putih semua. Di dalam pesawat meski seneng, saya juga bingung, nanti mendarat, gimana ya (perasaan itu pasti ada) pada saat kita mendarat di negara baru dengan kultur dan bahasa yang beda.

Sepanjang perjalanan, isinya tidur saja, bangun hanya untuk sarapan dan makan malam, menu makanya pun enak dan cukup variatif. Menu babi selalu ada di maskapai ini. Diatas juga bisa pake wifi, meski begitu saya tidak memanfaatkannya, saya memilih istirahat,

Sejam sebelum mendarat, pramugari membagikan kartu kedatangan, hal yang pasti kita lakukan ketika akan masuk ke suatu negara. Saya centang NO semua, dan pilot memberi tahu bahwa sebentar lagi kita akan landing di Boston Logan International Airport, waktu menunjukkan pukul 21.30 waktu Boston, ada perbedaan waktu 12 jam antara Boston dan Surabaya.

21 jam perjalanan dilalui, saya landing di Boston, hmm antrian imigrasinya tidak terlalu panjang, tentu semuanya bule, grogi dan dag dig dug tetap ada, di Imigrasi masih juga ditanya macem, macem, bawa uang berapa ? mau kemana saja ? tinggal dimana ? kamu kenapa tidak mengajak ibu atau saudaramu ?  petugas juga pake nanya tiket Bus lagi, “saya lupa nge print”.

Saya berusaha mencari ponsel di saku celana, petugas imigrasinya nanya, What are you doing ? ( kok kayak bingung), I Will show you my ticket bus,  “I don’t need”…. (mereka kalo ngomong  inggrisnya cepet, butuh 2 detik buat saya untuk mencerna yang mereka sampaikan) dan dia stempel pasporku, .jebret,  lega rasanya dah lolos imigrasi dan saya jalan lempeng menuju pintu keluar sambal awang-awangen ( serius ini Amerika, masih gak percaya, wew aku nyampe Amerika akhirnya)

Dengan menenteng 1 koper besar dan kecil saya berjalan masih dalam suasana jetleg campur ada bingung, lalu ada orang menyapa 

Welcome to The USA !!!.


(BERSAMBUNG)