Taklukkan Gunung dengan Kaldera Terluas di Dunia

Dua abad silam, Tambora mengguncang dunia dengan letusannya yang mahadahsyat, tepat pada 11 April 1815. Letusan yang mampu mengubur hidup-hidup empat kerajaan sekaligus dan menyebabkan iklim dunia berubah, yang dikenal dengan istilah “setahun tanpa musim panas”.

 

Alasan inilah yang melatarbelakangi rasa penasaran saya untuk mendaki gunung tersebut yang konon memiliki kaldera terluas di dunia. Tepat 11 April 2015 lalu menjadi puncak peringatan dua abad Tambora, hampir seluruh masyarakat dunia tertuju pada peringatan tersebut. Saya salah satu yang menjadi bagian dari peringatan dua abad Tambora dengan mendaki gunung tersebut.

Saya mulai berkemas pada 9 April, semua peralatan naik gunung saya persiapkan untuk mendaki gunung dengan ketinggian 2.851 Mdpl tersebut. Saya berangkat dari Surabaya menuju Lombok menggunakan pesawat Garuda Indonesia, bersama kakak dan kawan kerja saya. Sesampainya di Lombok, kami berkumpul berempat, satu orang dari Jakarta bergabung, dia Adita Irawati, salah satu runner yang malang-melintang di marathon trail run .

 

Sampai di Lombok, kami melanjutkan penerbangan lanjutan dengan pesawat Garuda Indonesia ATR 72-600 menuju Bima. Penerbangan menuju Bima memakan waktu 50 menit di udara, pemandangan alam Indonesia sangat luar biasa dilihat dari udara. Selama 50 menit perjalanan, pesawat kami mulai mendarat di Bandara Sultan Salahudin, Bima, Nusa Tenggara Barat.

Wow pendaratannya lumayan mengerikan, maklum selain pesawatnya baling-baling, kanan kirinya gunung, jadi harus berputar-putar mencari posisi yang tepat untuk pendaratan. Akhirnya pesawat kami mendarat dengan sempurna. Tibalah kami berempat di Bandara Sultan Salahudin Bima. Waktu menunjukkan pukul 16.30 sore waktu Bima. Driver kami sudah stand by di pintu depan bandara, namanya Yono, pemuda asal Bima.

Setelah dari Bima kita harus melanjutkan perjalanan menuju Dompu. Sepanjang perjalanan relatif sepi, hampir tidak saya temui toko besar. Untuk menuju Dompu dibutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan. Kami sengaja menginap di Dompu, karena waktu sudah masuk malam. Di sebuah guest house yang kami sewa, kalau di Jawa sebetulnya lebih mirip dengan kos-kosan. Tempatnya bersih, pakai kipas angin dan tentu jangan berharap ada bathtub atau air hangat.

Keesokan paginya, kami melanjutkan perjalanan dari Dompu ke Desa Pancasila untuk memulai pendakian ke Gunung Tambora. Jika Anda pergi ke Gunung Tambora, jangan pernah melewatkan momen melewati savana sepanjang perjalanan dari Dompu ke Desa Pancasila, tepatnya di Desa Doropeti.

Rasanya seperti berada di Afrika. Savananya luas dengan hewan ternak yang masih liar dengan latar Gunung Tambora yang sangat megah. Indonesia sangat kaya, ya sangat kaya. Pantas jika ada yang menyebut Indonesia tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Memulai pendakian

Setelah 3 jam perjalanan sampailah kita di Desa Pancasila. Nah di sinilah awal mulai pendakian Gunung Tambora. Kami mulai melapor ke pos penjagaan, mengisi formulir pendakian, dan mendapat sebuah pin bertuliskan “Tambora Menyapa Dunia”. Barang-barang mulai kami turunkan dari mobil. Petugas menjelaskan medan dari Gunung Tambora.


Gunung Tambora memiliki lima pos pemberhentian. Jarak antara Pos 1 ke pos 2 memakan waktu 2 jam perjalanan. Jarak antara pos 2 ke pos 3 yang lumayan jauh, bisa sampai 4 jam perjalanan. Dari pos 3 ke pos 4 relatif dekat dan hanya memakan waktu selama 1 jam perjalanan. Pos 4 ke pos terakhir, yakni pos 5 juga memakan waktu 1 jam perjalanan.


Kami mulai mendaki pukul jam 09.00 pagi hari Jumat, 10 April 2015. Eksplorasi Tambora pun dimulai, kami memasuki hutan tropis di Gunung Tambora. Ya, hutan yang mungkin pohonnya sudah berumur ribuan tahun. Banyak pohon besar tumbang sepanjang perjalanan menuju Pos 1. Jalanan juga masih relatif landai, udara juga sangat sejuk, menjadikan perjalanan awal kami begitu menyenangkan.

Setelah 2 jam perjalanan sampailah kami di pos 1. Di sini bertemu banyak pendaki. Kebanyakan dari mereka adalah pencinta alam. Kalau mau ambil air di sinilah tempatnya karena ada sumber air yang digunakan para pendaki untuk bekal pendakian. Setelah istirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2, rutenya masih tetap landai walaupun jalanannya relatif sempit.

Usahakan jika mendaki Tambora menggunakan kaus panjang yang menutupi tangan dan kaki agar tidak terluka karena tanaman yang cukup rimbun. Pos 2 dan Pos 3 ini perjalanan yang paling jauh, kami berjalan hampir 4 jam perjalanan. Di sini kami membuat tenda untuk beristirahat dan waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 petang.

Hari mulai gelap, kami pun menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan, sambil memasak mi instan dan nasi untuk bekal makan. Lumayan perut sudah kenyang, kami pun mulai beristirahat di dalam tenda. Rencananya, dari Pos 3 kami berangkat jam 12 malam untuk mengejar sunrise di atas puncak Tambora. 


Jalur yang makin curam

Waktu sudah menunjukkan jam 12 malam, kami mulai berkemas membawa barang seadanya untuk mulai pendakian ke puncak. Menggunakan senter, kami berjalan di tengah gelapnya malam. Satu jam perjalanan sampailah di Pos 4. Hampir tidak ada yang berani berkemah di pos ini karena konon terkenal angker. Yang memaksa untuk berkemah di sini pasti diganggu.

Mulai tenda yang berpindah sendiri, sampai tenda sobek-sobek, dan banyak cerita ngeri lainnya di Pos 4 ini. Pos 4 ke Pos 5 memakan waktu satu jam perjalanan. Sampailah kami di Pos 5 pada pukul 02.00 dini hari. Hawa dingin mulai menyengat ke tubuh. Dari Pos 5 menuju puncak masih sangat jauh.



Ada dua jalur untuk bisa menuju puncak, bisa lewat Bukit Penyesalan, satu lagi menuju jalur makam. Lewat jalur makam memang relatif dekat, tapi pendakiannya curam. Kebetulan kami memutuskan melalui Bukit Penyesalan dan benar-benar menyesal hehehe...

Pasalnya, jalan sangat jauh dan curam. Melewati jurang yang cukup curam setapak demi setapak kami berjalan. Rasanya sudah mau putus asa karena tak kunjung sampai. Setelah berjalan hampir total 7 jam, jalanan terus menapak naik dengan elevasi 60 derajat akhirnya kami bertemu hamparan pasir yang landai pada pagi hari.



Dari sini, puncak Tambora sudah tampak dengan begitu megahnya. Kurang beberapa saat lagi kami disuguhi sebuah pemandangan yang luar biasa dahsyat, yakni kaldera. Ya, kaldera terluas di dunia dengan diameter hampir 8 km dan kedalaman 4 km. Sungguh luar biasa ciptaan Allah yang dititipkan di bumi pertiwi.

Jum'at,  15 Mei 2015  −  08:39 WIBGunung dengan pemandangan yang sangat indah yang tidak bisa saya sampaikan melalui kata-kata. Subhanallah ... Luar biasa ciptaanmu ya Allah. Setelah mengambil beberapa foto, saya meneruskan perjalanan sedikit lagi menuju puncak Gunung Tambora.



Akhirnya, 2 jam perjalanan sampailah saya di Puncak Tambora . Yeay 2.851 Mdpl, itulah tulisan yang tertulis di atas puncak Gunung Tambora. Gunung yang dulu pernah memiliki ketinggian 4.200 Mdpl. Puas rasanya hati, lelah terbayar, bahagia tidak bisa diungkapkan. Semua capek hilang seketika sampai di puncak Tambora.



Bersyukur bisa menjadi saksi Dua Abad Tambora Menyapa Dunia dan menyaksikan gunung yang sangat indah, dengan segala kesempurnaan ciptaan Ilahi Robbi.

( Andik Setiawan Salman Al Farisi )