Shalawatan di Sebuah Gereja Amerika #Part-3

Sudah baca part-2 nya kan, nah ini lanjutannya bagian ke-3

Landing di Logan International Boston Airport, saya dijemput sasuh (saudara asuh), sebagaimana saya punya bapak ibu asuh se-Indonesia Raya, saya juga punya sasuh di beberapa negara belahan dunia, sebut saja Mesir, Yaman, Auckland, Irak, Saudi Arabia, Inggris, Australia dan beberapa negara lain.Itu kenapa meski pergi sendiri, saya tidak pernah sendiri, Allah terlalu baik untuk membiarkan saya jalan sendiri mengelilingi buminya.

Selain dapat diandalkan, para saudara asuh ini, mereka juga dikaruniai Allah kelebihan, ada yang diberi kelebihan ilmu, pinter ngaji tapi tak pernah menggurui, diberi kelebihan duit yang gak ada serinya tapi tak pernah terdengar "suaranya", ada yang diberi kelebihan fisik tapi gak narsis juga.  Itu kenapa mereka tidak pernah ada foto dirinya terpampang.

Menggunakan mobil All New Civic, saya menuju hotel dari bandara. Jarak tempuh bandara ke hotel tempat saya menginap sekitar 20 menit perjalanan, Boston bisa dibilang kota yang relatif tenang dan tidak macet ketimbang New York dan negara bagian Amerika lainnya.

Sampai di hotel namanya Hotel HI Boston, lokasinya sih strategis punya, namun hotel ini campur semi-semi hostel gitu, jadi yang tempat tidurnya semi-semi barak. Seru sih, tapi tunggu dulu.

Ngobrol dengan petugas front office nya yang tidak begitu ramah,  bikin agak males untuk stay di hotel ini meski lokasinya strategis. Hotel International di tengah kota, banyak traveler dari berbagai negara juga  tinggal disini, namun, tetap saja ini United States of Amerika, tempat tidur ranjang campur ber-enam orang kayak asrama gitu, kita mesti morogoh kocek 70 USD = 800 ribu rupiah, itu tempat tidur doang campur ber-enam loh ya, dengan kamar mandi umum, setelah pikir-pikir, kok kayaknya saya mending tidur di pinggiran kota ya, toh ada mobil kan, akhirnya saya geser ke daerah Natick, di pinggiran Boston gitu, malam itu juga habis makan nasi goreng, saya dapat hotel di daerah Framingham.

Coutyard Marriot, harganya relatif miring, yah sama kayak hotel JW Marriot di Indonesia lah, kalo ke Amerika ada keluarga, saran saya sih mending emang stay di hotel pinggiran, toh ada mobil, selain ngirit budget, juga dapat hotel bagus dengan harga miring.

Keesokan harinya mulai deh keliling Boston dulu, pertama menuju ke Boston Public Library, sebetulnya ya, kalo keliling Boston aja, tempat wisata bisa dijangkau dengan jalan kaki atau lari, karena tempat-tempat wisatanya itu berada dekat antara satu dengan yang lain di tengah kota. Ada Boston University juga dan ratusan kampus lain di wilayah Boston.

Seperti Boston Library, Quincy Market, Faneuil Hall, Old State House dan masih banyak lagi tempat-tempat bersejarah lainnya di Boston, tidak mengherankan, karena Boston merupakan salah satu kota paling tua di Paman Sam.

Boston Public Library secara arsitektur menarik, di dalamnya juga tertata rapi, untuk masuk pun tidak dikenakan  biaya. Banyak orang yang betah berlama-lama di perpustakaan ini untuk membaca koleksi buku yang ada di dalamnya.

Setelah perpustakan, saya jalan kaki melewati rumah orang-orang kaya Amerika yang terletak di jantung kota Boston. Pernah nonton film jaman dahulu, rumah-rumah ini seperti di film Amerika jaman dulu, begitu megahnya, entah berapa duit mereka keluarkan untuk membeli rumah di kawasan ini. Berharap suatu saat juga bisa tinggal di Amerika, jika ditanya kenapa? minimal ada 1 orang yang bisa mengumandangkan adzan dan baca shalawat di Negeri Uncle Sam hehehe. Karena sepanjang perjalanan saya jarang sekali denger adzan, jarang juga lihat masjid, bahkan biasanya, kalo jalan ke Eropa aja, masih terdengar sayup-sayup orang berkata “Bapak/Ibu nanti kita ketemu di depan Lafayette ya”, di Amerika, boro-boro masjid, yang ngomong Indonesia saja jarang banget. Makanya, hopefully, kelak Allah memberi saya rezeki berlebih supaya bisa tinggal di United States of Amerika.

Perjalanan berikutnya, ke mall-mall di Boston, reviewnya tidak terlalu banyak mall di Boston. Jadi di Amerika itu, Massachusset tepatnya, toko buka jam 10 dan tutup jam 19.00, sisanya mereka habiskan waktu buat dugem di cafe atau tempat nongkrong. Minim mall pula, beberapa ada outlet barang branded, namun tidak sebanyak kalo pas di New York.

Sore harinya saya berkesempatan mencicipi Roti keluaran Mike Pastry, konon roti ini udah terkenal sejak 40 puluh tahun yang lalu, untuk mendapatkannya kita mesti antri lama, harga per satunya 8 dollar, setelah dapat rotinya, mengenai rasa tidak perlu worry, enak banget dah, sesuai dengan antriannya yang panjang.

Setelah dari roti kanoli tadi, saya berjalan ke Oyster Bar, yang dulu merupakan tempat favorit makan presiden Amerika John F Kennedy, tentu saya tidak makan disini, selain saya bingung cara makannya, pasti harganya menjulang bak Burj Al Arab. Di deretan pengunjung yang datang saya lihat limousine hitam nangkring di depan tokonya.

Sore menjelang malam, waktunya isi perut, di Amerika, sarapan  pop mie , siang nyemil roti, malem baru kerasa makan, makan nasi goreng Victoria tepatnya. Yang jual temen-temen chinese, porsi makannya jumbo, untuk menanggulangi rasa hambar, saya menambahkan sambel bon cabe, lumayan, rasanya jadi tambah sedap.

Kalo makan di Amerika, harus nge tips 15 persen dari total yang kita makan, jadi kalo makan misal harga 100.000 neh, berarti tips nya 15.000, lumayan kan, jadi kalian sekarang tahu betapa bersyukurnya bisa tinggal di Indonesia, yang makan pecel sama teh botol cuman 10.000 perak.Di Amerika, nasi goreng begini jika di kurs kan ke rupiah sama minum mungkin 500 ribuan ya, udah kayak makan steak di Hotel Mulia Senayan.

Malam menjelang, kali ini saya pindah ke Hostel yang kemarin, tapi ambil kamar yang privat, males juga kan tidur campur-campur orang gak kenal, soalnya di hotel ini semuanya bebas, bebas minum, nge beer, drug, dan sebagainya, menghindari hal yang nyeleneh saya ambil kamar privat dengan kamar mandi dalam.  Lumayan sih, tapi gak lumayan buat harganya, kamar privat disini seharga kamar Grand Hyatt Kualalumpur yang udah bagus banget, maklum sekali lagi, This is United States of America, jadi terima aja. Toh ini liburan menyenangkan.

Keesokan harinya, hari minggu, petualangan di hari ketiga, saya berencana pergi ke Mount Washington, meski namanya Mount Washington, letaknya bukan di Washington DC tapi di New Hampshire, sekitar 184 Km dari Massachusset, yah ibarat Indonesia, kayak Surabaya ke Probolinggo, kisaran 2 jam an, cuman kan di Amerika jalananya lebar, apalagi kalo perjalanan antar negara bagian, lewat jalan tol, minim macet, dan kanan kirinya pemandangannya Indah.

Sebelum ke Mount Washington, karena ini hari minggu, saudara asuh mesti ke Gereja, saya diajak masuk ke dalam Gereja, kebaktian hari minggu, sebenernya sungkan mau masuk, cuman ya daripada bengong diluar ya saya masuk aja, mungkin ini pertama kali dalam hidup saya masuk ke Gereja dan lihat kebaktian teman-teman nasrani di Amerika.

Pertama saya lihat seperti konser kecil, mereka menyanyi, dan dilanjutkan dengan khotbah, yang saya juga tidak tahu artinya, saya duduk di belakang sambil mainan ponsel. Hampir 2 jam an di dalam gereja yang terletak di salah satu sudut kota Boston. Untuk menghabiskan waktu, saya shalawatan dalam hati, sampai masa kebaktian berakhir. Indahnya keberagaman, mereka kebaktian, saya shalawatan, meski berada di tempat yang sama, satu bersuara yang satu cukup di dalam hati tanpa mengurangi maknanya.

Di tengah-tengah kebaktian ada break,  jadi kayak salaman satu dengan yang lain, kenalan dengan orang-orang yang sedang kebaktian, kebetulan yang nyalamin saya orang chinesse, menghindari pertanyaan macam-macam, saya bersalaman dan duduk kembali tanpa membuka pembicaraan, bukan bermaksud tidak mau ngobrol panjang lebar, tapi lebih pada karena saya muslim dan tidak paham kebaktian, kan gak lucu juga kalo tiba-tiba dia nanya, kamu biasa kebaktian dimana selain disini, ha ha ha.

Keluar dari Gereja, langsung injak gas menuju Mount Washington, seperti biasa, ketika traveling saya mencari lokasi yang tidak umum, supaya menarik diangkat menjadi cerita, Mount Washington, sangat menarik, pertama, jarang ada wisatawan Indonesia dengan tujuan Mount Washington yang merupakan salah satu dari 5 gunung paling berbahaya di dunia. Kedua, tidak ada itinerary tour manapun yang pergi ke Mount Washington

 (BERSAMBUNG)