Sahur di Jakarta, Buka Puasa di Sydney

Sydney Opera House

Mengunjungi Sydney di awal bulan juni ini menjadi special, penyebabnya adalah event tahunan bertajuk Vivid Sydney yang digelar mulai tanggal 25 Mei sampai dengan 16 Juni 2018. Saya menjadi salah satu orang yang beruntung karena berkunjung pada moment tersebut. Vivid Sydney merupakan pagelaran festival cahaya terbesar di dunia yang digelar setiap tahun dan tahun ini telah memasuki tahun ke-10. Kota Sydney disulap menjadi sangat indah dengan jutaan cahaya yang “ditembakkan” ke bangunan iconic  seperti Sydney Opera House, Sydney Harbour Bridge dan bangunan-bangunan lain di kawasan Sydney.

Vivid Sydney

Hiburan ini gratis dan bisa dinikmati oleh semua masyarakat yang datang ke Sydney. Bermodal tukar poin 35.000 poin Garuda Miles saya berangkat dari Surabaya menuju Jakarta dilanjut penerbangan menuju Sydney. Berangkat hari jumat pukul 18.00 dari Surabaya lalu  dari Jakarta pukul 23.40, penerbangan ke Sydney memakan waktu 7 jam. Pukul 09.30 pagi waktu Sydney saya landing di bandara Kingsford Smith. Ada perbedaan waktu lebih cepat 3 jam antara Sydney dan Jakarta. Oh iya, informasi  dihimpun bandara ini merupakan bandara tertua di dunia yang beroperasi terus menerus dan merupakan bandara tersibuk di Australia yang menangani sekitar 100 juta penumpang selama tahun  2018.

Setelah landing, saya mulai naik taksi dari bandara ke pusat kota SCBD (Sydney Central Business District). Wow,  taksi dari bandara ke kota lumayan euy, 60 AUD atau sekitar 600 ribu rupiah, tapi sisi positifnya irit waktu dan gak capek. Kalo mau naik kereta atau bus sebenernya bisa saja, kita cukup beli kartu opal, kartu ini gratis cuman ngisinya tetep bayar he..he…he. Pilihan jatuh ke taksi, karena saya di Sydney cuman sehari, butuh waktu cepet buat explore Sydney.

Sampai di SCBD, langsung tampak, Sydney Opera House, gedung opera yang sangat famous di dunia. Kalo bicara landmark, Sydney identik dengan dua hal, pertama Sydney Opera House dan yang kedua Sydney Harbour Brigde, pergi ke Sydney tidak foto di depan Sydney Opera House kayak makan lalapan tanpa sambal, hambar, Cuk. 

Setelah dari Sydney Opera House saya geser ke Sydney Harbour Bridge, Jembatan yang memiliki konstruksi baja terbesar di dunia. Saya sempat naik ke atas buat ngambil angle mata elang gedung opera. Jembatan ini sangat megah dan bagus, angin yang kencang serta cuaca dingin menjadi berkah tersendiri di bulan Ramadhan, puasa jadi tidak terasa di Sydney.

Yang menarik dari Sydney Harbour Bridge ini, Jembatannya bisa didaki ampe puncak, dan mungkin ini satu-satunya jembatan di dunia yang memungkinkan orang untuk mendaki sampe puncak Jembatan, yang bikin salut lagi, di sebelah jembatan, disediakan jalan bagi para pejalan kaki yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang buat lari maupun ngambil foto kota Sydney dari ketinggian. Keren !!.

Setelah naik Harbour Bridge, saya berkeliling di sekitar kota Sydney, di kawasan kota tua, The Rock, kalo mau beli souvenir bisa disini, lalu ke Museum Police, Queen Victoria Building, Susanah Museum dan Botanical Garden, tempat Jokowi kalo jogging di Sydney.

Jarak tempat wisata satu dengan yang lain di kota Sydney bisa dijangkau dengan jalan kaki, jadi lumayan lah ngirit, jalan kesana kemari. Malam harinya, saya cukup beruntung, karena bisa menyaksikan pagelaran Vivid Sydney. Seperti saya sampaikan di awal, sebuah pagelaran cahaya terbesar di seluruh dunia, yang menyulap kota Sydney menjadi bercahaya. Cahayanya pun berubah tiap menit. Supaya dapat foto sempurna, kita bisa naik cruise ke beberapa jurusan, kebetulan saya ngambil jurusan Taronga Zoo, sekitar 30 menit perjalanan kita akan diajak berkeliling naik cruise. Biaya nya pun juga cukup terjangkau hanya 15 AUD atau sekitar 163 ribu rupiah.  

Vivid Sydney

Untuk naik cruise tersebut, saya pakai kartu Opal yang saya dapat pas landing di Sydney .Kartu ini sendiri gratis, kita cukup ngisi saldonya di toko-toko terdekat. Dengan kartu ini kita bisa pakai untuk naik bus, ferry dan kereta selama di Sydney

Sydney bisa dibilang kota yang sangat tertib dan indah. Ditambah lagi cuacanya kemarin sangat mendukung, pas musim autumn, suhu rata-rata di Sydney kisaran 11- 16 derajat celcius. Waktu di Sydney yang 3 jam lebih awal dibanding Jakarta,juga cukup menguntungkan bagi saya, karena sahur di Jakarta dan buka puasanya di Sydney, jadinya puasa dapat diskon selama 3 jam lebih awal berbuka puasanya hehe.

Untuk liburan singkat di kala weekend, Sydney menjadi pilihan  kota yang layak dipertimbangkan, selain Jepang. Kita bisa merasakan perpaduan kecanggihan transportasi dan teknologi kota Jepang, arsitektur bangunan Eropa di dalam satu kota bernama Sydney. (Andik Setiawan Salman Al Farisi)