Petualangan 7 Anak Negeri

Bagi kalangan pendaki  gunung, yang populer di benak mereka hanyalah Gunung Bromo, Gunung Semeru, Gunung Ijen dan Gunung Merapi yang layak dijelajah di Pulau Jawa. Nama Gunung Arjuno seolah tenggelam dan tidak masuk dalam kamus mereka karena kepopuleran gunung-gunung tersebut.

Memang tidak bisa dipungkiri, Gunung Arjuno yang berada di Kota Apel Batu, Malang, Jawa Timur, kurang begitu populer di kalangan para pendaki maupun wisatawan. Pendaki lebih memilih Gunung Semeru yang konon menjadi puncak para Dewa, untuk mengeksplorasi adrenalin dibanding Arjuno. Justru ketidakpopuleran Gunung Arjuno ini membuat saya penasaran dan ingin mengetahui kenapa seperti itu.

 

Akhirnya saya memutuskan mendaki Gunung Arjuno bersama tujuh kawan dan beberapa fotografer media.Dua teman dari Jakarta dia Adita Irawati dan Yardin Octora orang yang sudah terbiasa malang melintang di dunia Trail Run. Satu lagi dari Madura namanya Wijang Zulkarnain, seorang kawan dari sales Madura.

 

Kepergian ke Gunung Arjuno, sebenarnya tidak disengaja dan bukan tujuan awal pendakian kami. Pasalnya, beberapa kali kami sudah summit untuk bisa mencapai puncak Semeru. Tanpa disangka Semeru ternyata masih ditutup buat pendakian, dan baru dibuka di pertengahan bulan Mei.Tentu kami tak ingin rugi, mengingat peralatan telah kami bawa lengkap dan tak mungkin kami kembali tanpa mendaki satu Gunung. Dan keputusan itu pun kami ambil hanya dalam hitungan menit saat berada di dalam mobil. Kami memutuskan mendaki Gunung walaupun kami sendiri juga tidak tahu rute yang harus kami tempuh dan seperti apa medannya. Jadi benar-benar nekad.


Perjalanan diawali saat mobil yang kami tumpangi dari Juanda mulai berputar menuju arah Gunung Arjuno. Kami menginap di Malang untuk persiapan besok pagi mendaki Arjuno dari arah Tretes. Pagi pun datang dan kami mulai pendakian, melalui pintu Tretes. Untuk mendaki Gunung Arjuno sebenarnya bisa ditempuh dari beberapa lokasi, namun kami memilih Tretes selain dekat dengan tempat kami menginap, menurut info beberapa kawan, rutenya paling memungkinkan dijangkau.

Begitu memasuki kawasan pendakian, kami harus menyerahkan surat sehat dan copy KTP sebagai prosedur pendakian, kemudian mengisi beberapa form dan membayar tiket masuk pintu Gunung Arjuno. Selain bertujuh kami juga dibantu 5 porter asli Malang. Mereka yang membantu kami membawa barang-barang kami sekaligus menyiapkan berbagai peralatan yang dibutuhkan.

Tanpa bantuan porter mungkin pendakian ke Gunung Arjuno sangat berat mengingat kami membawa barang lumayan banyak. Dan mungkin terlalu berat jika saat melakukan pendakian dengan membawa barang di pundak. Apalagi kami sama sekali buta tentang karakter Gunung Arjuna karena ini kali pertama kami ke sana. Perjalanan pun dimulai. Dan kami tidak menyangka sama sekali, ternyata medan Gunung Arjuno berbatu dan hampir seluruhnya benar-benar berbatu, sehingga pendakian juga sangat memberatkan.

Untuk memulai pendakian, kami berangkat pukul 07.00 WIB menuju Lembah Kijang. Sebelum sampai ke lembah ada beberapa pos yang harus kami lewati. Dari Pos masuk sampai Pos 1 yang dinamakan kop-kopan yang dalam Bahasa jawa artinya Ngokop (tempat minum air). Dan di sinilah tempat istirahat para pendaki sambil menikmati cemilan dan sumber air Gunung Arjuna. Dari pos awal sampai masuk ke pos 1, perjalanan ditempuh dengan waktu 3 jam. Dilanjutkan dari Pos 1 lanjut ke Pos 2 sekitar 3 jam perjalanan. Dan tepat pukul 17.00 WIB, kami baru sampai di Lembah Kijang.


Perjalanan memang cukup melelahkan dan kaki terasa "patah-patah". Kelelahan yang luar biasa akhirnya terbayar begitu sampai ke Lembah Kijang.Tidak menduga sama sekali, kami benar-benar terkesan dengan keindahan Lembah Kijang.Bantaran padang savana yang sangat hijau dan kesenyapan yang mewarnai savana seolah-olah menunjukkan savana hidup tapi tak berpenghuni.

"Kami seolah-olah berasa memiliki taman pribadi. Kesenyapan Lembah Kijang yang indah dan menakjubkan inilah yang mungkin dampak dari kurang populernya Gunung Arjuno," tukas Andi. Usai menikmati keindahan Lembah Kijang, kami mulai mendirikan tenda. Apalagi matahari mulai menghilang berganti malam yang menyapa kedatangan kami.

Seperti biasa kami membuat api unggun sebagai penerang di kala gelap. Suhu di Lembah kijang kisaran 11 derajat celcius. Malam terus berjalan dan suasana sunyi di sekitar tempat kami bermalam, membuat situasi sedikit menyeramkan. Tapi inilah tantangan bagi pendaki. Untuk mengusir kesenyapan, kami menyiapkan makan malam mengingat perut mulai keroncongan dan energi terkuras banyak saat mendaki.

Setelah makan malam kami mulai merebahkan diri di dalam tenda sembari menahan kantuk luar biasa yang didukung cuaca sangat dingin. Mau tidak mau, kami harus menutup mata secepatnya dan menikmati istirahat mengingat pukul 01.00 WIB, kami akan melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Arjuna. Meski mata masih mengantuk berat, tepat pukul 01.00 WIB , kami mulai menyisir kegelapan menuju puncak Arjuno. Dengan ditemani kesunyian dan berbekal sinar lampu senter dan headlamp, kami mulai menyusuri jalan . Tanjakan yang harus kami lakukan hampir mencapai 45 derajat.

Setelah merasakan langsung medan Arjuno, ternyata tak kalah dahsyat dari Gunung Semeru. Pasalnya, sepanjang perjalanan isinya hanya tanjakan dan tanjakan, hampir tidak ada jalanan landai.


"Kami harus benar-benar fokus mengingat medannya sangat ekstrim, menjaga posisi badan tegak ke atas sesuai dengan tanjakan berbatu yang dilalui. Ini adalah gunung yang menurut saya tidak ada "bonus" nya," tukasnya.

Setelah perjalanan 5 jam ke puncak, sampailah kami di Puncak Ogal Agil. Puncak Gunung Arjuno sendiri berada pada ketinggian 3.339 Mdpl Memang sangat luar biasa keindahan Gunung ArjunoDinamakan puncak Ogal Agil karena di atas puncak terdapat banyak batu yang berada di pinggiran jurang yang curam tapi tidak jatuh. Gugusan awan dan sunrise menambah indahnya alam Indonesia.


Dari atas tampak "peta" Kota Malang dan sekitarnya. Puncak Semeru dan Welirang juga terlihat sangat indah dari Gunung Arjuna.Keputusan kami pada saat memutar arah dari Juanda ke arah Kota Malang, sudah tepat. Keputusan mendaki Gunung Arjuna tidaklah sia-sia meskipun harus menempuh rintangan yang tidak hanya menyeramkan namun benar-benar melelahkan.

"Dan bersyukurlah kami, rasa capek dan sebagainya terbayar lunas rasanya saat kami berada di puncak Gunung Arjuna," imbuh pria yang suka mendaki gunung ini.