Menyusuri  Pulau “Hawaiinya” Indonesia

Salah satu pulau dengan pesona laut yang luar biasa adalah Alor . Untuk mencapai Alor bisa menggunakan perahu dan pesawat. Jarak tempuh Kupang menuju Alor sekitar 7 jam perjalanan dengan menggunakan perahu. Jika menggunakan pesawat hanya butuh 1 jam perjalanan dari Kupang.

Menyusuri Pulau

Kami memilih alternatif kedua, menggunakan pesawat Wings kami terbang dari Bandara Eltari Kupang menuju Bandara Mali  di Alor. Jenis pesawat ATR 72-600  tentu penerbangan terasa menegangkan. Maklum, pesawat baling-baling jika melewati awan dengan bodi yang relatif kecil guncangan begitu terasa.

Sepanjang perjalanan di udara pemandangan didominasi wisata laut warna biru toska. Wilayah laut Indonesia timur berbeda dengan di laut Jawa. Lautnya cenderung warna biru toska dan kehijauan.

Satu jam di angkasa, akhirnya mendarat di Bandara Mali untuk pertama kalinya. Untuk ukuran sebuah airport, bandara ini cukup sederhana dengan kanan kiri lautan biru membentang. Meski begitu, banyak kami temui wisatawan mancanegara yang mendarat di pulau ini.

Al Quran Tertua

Kami mulai menyusuri pulau Alor. Lokasi tujuan pertama adalah Al Quran tertua yang ada di desa Lerabaing. Kami menemui penyimpan Al quran yang terbuat dari kulit kayu tersebut. Walaupun sedikit usang karena berumur ratusan tahun, Al Quran yang konon menjadi tertua di Asia ini masih komplit dan bisa dibaca dengan jelas. Kami diperbolehkan memegang langsung oleh pemiliknya, Saleh Panggo Gogo yang merupakan generasi ke 13 keturunan dari Kesultanan Ternate.

Setelah membaca Alquran tertua, kami dipersilahkan mengisi kotak sumbangan secukupnya. Berkunjung ke Alor yang merupakan Pulau “Hawaiinya Indonesia” tidak komplit jika tidak menyusuri pesisir pantai dan pulaunya.

Menggunakan perahu kecil, kami mulai menyeberangi beberapa pulau di sekitar pulau Alor, yakni pulau Buaya, dan Pulau Kepa karena letaknya yang tidak terlalu jauh.

Pulau Alor

Untuk menuju pulau ini hanya membutukan waktu 20  menit menggunakan perahu kecil. Untuk urusan pantai dan keindahan taman laut, Alor, dan pulau Kepa bisa dibilang juaranya. Lautnya yang berwarna hijau toska,  seperti cermin menjadikan laut ini ibarat kolam raksasa sebening kaca.

Pulau Kepa

Ikan-ikan kecil dan biota laut dapat kita lihat dengan mata telanjang dari atas permukaan air. Kami tidak snorkling, tapi kami berenang di laut Pulau Kepa. Berenang di sini seperti renang di Pulau milik pribadi, karena hampir jarang ada wisatawan yang berenang di pesisir pantai pulau Kepa.

Pulau Pura

Selanjutnya , kami geser ke Pulau Pura, sama seperti Pulau Alor dan Pulau Kepa, pesona laut Pulau Pura juga bisa dibilang luar biasa, air-airnya jernih dan berwarna kebiruan menambah eksotika pantai Pulau Kepa. Di sini kami menyapa penduduk warga asli pulau pura yang masih tergolong primitif.

Anak-anak Desa Takpala

Anak-anak tidur di pasir putih sudah menjadi keseharian. Warga Pulau Kepa selain berprofesi sebagai nelayan,

ibu-ibunya berprofesi sebagai penenun. Kalo ingin membeli oleh-oleh kain tenun asli Pulau Pura, kain tenunnya dibandrol dengan harga 500 ribu – 1 juta rupiah.

Rumah Adat Desa Takpala

Lokasi kunjungan terakhir di Alor adalah Desa Takpala. Desa ini merupakan salah satu desa adat dari 3 desa adat yang ada di Pulau Alor yang masih kental dengan adat istiadat  nenek moyang. Desa adat Takpala didiami oleh Suku Abui yang berarti orang gunung. 

Baju Adat Desa Takpala

Seperti halnya pengunjung lain yang datang ke sini, kami mencoba pakaian adat Desa Takpala lengkap dengan perangkatnya seperti, panah, tombak dan pedang. Secara tampilan pakaian adat ini cukup unik dan bagus untuk difoto.

Jika anda belum bisa main ke Pulau Hawaii di Amerika, Alor bisa menjadi alternatif pengganti wisata laut setara Hawaii. Kita patut bersyukur hidup di negeri yang begitu kaya dengan keberagaman bahasa, adat istiadat dan pesona alam yang luar biasa. (Andik Setiawan)