Mengunjungi Pusaran Konflik, Israel dan Palestina

Ketika mendengar kata Israel pasti yang muncul di benak teman-teman semua adalah negara konflik dan perang. Seperti yang tampak di berita dan televisi selama ini. Namun melalui tulisan ini saya mencoba menceritakan keadaan sesungguhnya ketika saya diberi kesempatan untuk menjejakkan kaki di Land of Faith bulan maret 2017. Untuk menuju Israel kita bisa melalui Jordan maupun Mesir, namun saya bersama rombongan landing di Queen Alila International Airport, Jordania.

Perjalanan dari Jordan ke Israel tidak terlalu jauh, kisaran 3 jam perjalanan. Untuk Jalananpun juga sangat bagus dengan nuansa religi zaman nabi yang begitu kental, namun perasaan dag dig dug itu ada ketika sudah memasuki perbatasan Allenby Bridge Terminal.

Perbatasan Allenby

Allenby ini adalah perbatasan akhir antara Jordan dan Israel, dan merupakan pintu masuk untuk masuk ke Israel maupun Palestina. Kalo Palestina itu di bagian tengah, nah Israel ini menguasai di bagian pinggir serta pintu masuk ke Palestina. Sebetulnya dulu Israel tidak pernah ada di peta, karena terus melakukan invasi akhirnya Palestina tergerus dan beberapa wilayah Palestina diambil oleh Israel.

Jadi Ibarat kota Surabaya itu ada di tengah neh, nah di sidoarjonya itu yang notabene pintu masuk ke Palestina itu sudah dikepung dan menjadi wilayah Israel. Setiap tentara Israel tampak berjaga mulai Imigrasi (Allenby) sampai pintu masuk, penjagaanya sangat ketat dan tentara bersenjata berdiri di setiap border Israel. Tidak sulit membedakan tentara Israel dan Palestina, jika ada tentara tidak membawa senjata, itu tentara Palestina.

Ketika masuk imigrasi Israel, tidak sama dengan imigrasi lainnya yang banyak wisatawan, di Israel wisatawan sepi, hanya rombongan saya saat itu yang masuk ke Israel. Petugasnya imigrasinya sangat cantik, tapi susah ditebak, dia kalo mau nolak masuk ke Israel, suka-suka dia, kadang satu rombongan dari 4 ada yang 3 saja dijinkan masuk, ada yang suaminya disetujui, istrinya  suruh kembali, pokonya antik deh.  Dari awal kita sudah dipesenin, meski bisa bahasa inggris jangan kebanyakan ngobrol sama petugas imigrasi Israel , jadi kalo ditanya mending diam aja, berlagak bisu gitu ha ha ha, nah saat itu saya keceplosan jawab bahasa inggris, dan pertanyaanya jadi banyak, dan paspor saya dikembalikan, saya disuruh ke bagian paling belakang dari rombongan saya, mungkin karena saya masih muda ya, dan yang lain udah sepuh he he he.

Waktu paspor saya dikembalikan, saya udah agak takut, jika tidak boleh masuk ke Israel dan Palestina. Lalu saya coba bersabar, eh.. eyang kakek nenek, yang dari awal udah dipesenin gak boleh bicara banyak sama petugasnya, eh malah nyletuk “ Opo tho mbak kok ngguya-ngguyu ke petugas imigrasi Israel tadi”. Si petugas Imigrasinya langsung ngasih kertas biru dan si nenek langsung bisa masuk, mungkin karena dia nenek udah sepuh gak mungkin macam-macam juga ha ha ha, ngga berhenti disitu , setelah di kasih ijin, nenek masih bilang “ you are beautiful”. Allahu Akbar….. dengan lempengnya si nenek melewati Imigrasi Israel, padahal kita dari tadi dag dig dug.

Stay Permit and Exit Permit Israel

Setelah 16 orang rombongan masuk, giliran saya yang terakhir, “ saya hanya senyum, eh tiba-tiba si petugas imigrasi yang cantik ini ngasih kertas biru, yang artinya saya boleh masuk ke Israel.. Yeayyy.

Israel dan Indonesia tidak punya hubungan diplomatik, jadi jika pergi ke Israel kita hanya diberi kertas biru untuk masuk dan kertas merah untuk keluar, berbeda jika kita masuk ke suatu negara paspor kita selalu di stempel, di Israel jangan sekali-kali mau di stempel, nanti susah masuk ke negara-negara Timur Tengah.

Pagar listrik yang dibangun Israel

Setelah melewati Israel, wah udah lega kan, Ini ternyata negara yang selama ini saya lihat di TV selalu berkonflik. Melewati Allenby pagar-pagar listrik dan ranjau darat memang ada di kanan kiri jalan menuju Palestina. Daerah konflik yang selama ini diliput media berada di kawasan tepi barat dan jalur gaza. Setelah perjalanan sekitar 1 jam saya sampai di Jerusalem yang merupakan ibukota Israel, tapi saya lebih mengakui kota ini sebagai Ibu Kota Palestina.

Jerusalem

Awalnya saya menyangka Jerusalem itu seperti Arab yang gersang dan panas, ternyata disini subur, tanaman hijau dimana-mana dan cuacanya juga dingin seperti di Eropa. Boleh dibilang mini Italy ya, menurut saya kotanya gak kalah sama Milan, sama kerennya, meski beberapa arsitektur nampak sangat tua dan tidak terawat.  

Rasa was-was tetap ada selama perjalanan, karena di beberapa titik banyak tentara Israel menenteng AK 47. Jangan sekali-kali mengambil foto mereka, kecuali dengan kamera tele lensa jarak jauh, jika tidak mau AK 47 nya menoleh ke kita ha ha ha. Kendaraan militerpun juga bersliweran di depan masjidil Aqsa.

Mobil Tentara Israel

Meski begitu, entah kenapa saya tiba-tiba begitu tenang ketika berada di kawasan Aqsa yang sejuk, meski mobil-mobil militer itu ada. Tiga hari saya di kota Jerusalem, satu harinya kami menyeberang ke kota Hebron di Palestina untuk menyambangi makam Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq.

Makam Nabi Ibrahim AS

Makam Nabi Ibrahim jadi satu komplek dengan makam Siti Hajar dan Makam Nabi Ishak AS, sedangkan Makam Nabi Yusuf AS  berada di depan makam Nabi Ibrahim AS. 

Makam Nabi Ishaq AS

Saya hanya bisa masuk ke Makam Nabi Ibrahim, Nabi Ishak AS, dan Siti hajar, kompleks makam ini dijaga ketat oleh Israel dengan pintu besi, kami tidak diijinkan masuk ke makam Nabi Yusuf AS karena bagi mereka Nabi Yusuf AS disucikan.

Nabi Zakaria AS

 Selanjutnya saya ke makam Nabi Zakaria AS dan Nabi Yunus AS yang sangat famous dengan kalimat Tasbihnya.

Makam Salman Al Farisi

Lalu saya geser ke makam Salman Al Farisi, seorang sahabat baginda Nabi Muhammad SAW. Saya tidak menyangka, dulu saya sering menyebutnya, sekarang saya berada di depan makamnya, Subhanallah. Itu kenapa tanah Palestina dijuluki Land of Faith, disini banyak sekali makam-makam para nabi dan para wali.

Makam Rabiah Al Adawiyah

Setelah itu saya geser lagi ke makam sufi wanita yang sangat terkenal yakni, Rabiah Al Adawiyah, bau makamnya sangat harum dan berada di bawah tanah. Saya cukup beruntung bisa menyambangi makam para nabi dan wali dalam kunjungan ke Israel dan Palestina, karena orang pergi kesini, kalo gak niat, meski punya banyak duit akan mikir ribuan kali.

Jadi kesimpulannya adalah, Israel Palestina memang terjadi konflik tapi relatif aman buat wisatawan, asalkan jangan berangkat sendirian  dan dengan catatan Israel nya gak kambuh hehehe..