Main ke Negeri Matahari Terbit

Ini kali pertama saya berkunjung ke negeri berjuluk Matahari Terbit. Pertama kali juga mau berangkat mesti baca-baca mengenai Jepang, informasi dihimpun orang Jepang kurang bisa diajak ngobrol bahasa Inggris, transportasinya juga lumayan ribet karena terlalu banyak dan canggih. Saya sempat bingung, bedanya Subway, Tokyo Metro, Shinkansen, dan Japan Rail pass. 

Tidak ada rencana sebetulnya pergi ke Jepang, bermodal tiket yang saya beli di travel fair beberapa bulan lalu, nemu tiket Jepang murah 5,1 juta itupun naik SQ. Tau dong SQ, salah satu maskapai terbaik yang kalo naik itu bikin perut kenyang karena makanannya datang tiada henti.

Sajian makan siang SQ

Mengambil rute  Surabaya  Singapore  Tokyo (Haneda) dengan selang waktu 7 jam perjalanan sampailah saya di Haneda. Di Jepang ada dua airport, Haneda dan Narita, kebetulan saya mendarat di Haneda karena menggunakan SQ. Bandaranya terbilang cukup bersih, dan sangat maju, masuk toilet airport pemandangan cukup berbeda, tombol disana sini, semuanya serba canggih, keliru tekan bisa keliru semprot.

Masuk imigrasi juga semuanya serba tertib, tidak ada istilah dorong-dorongan serobot sana sini, semuanya ngantri dan tertata rapi. Setelah mengambil bagasi dan dimulailah petualangan kali ini.

Tiket Bus di Jepang

Saya mulai memilih moda transportasi, karena tinggal di daerah Nishikasai, untuk mencapainya ada beberapa alternatif, petunjuk seorang teman yang kuliah di Jepang, saya mengambil moda transportasi bus. Beli tiket bus pun cukup mudah dan setiap bus punya jam - jam tertentu, saya naik bus jurusan Kasai.

Ada yang unik, setiap bus lewat, petugas wanita di pos bus selalu membungkukkan badan sebagai rasa hormat pada penumpang bus, kebayang,  kalo ada 100 bus berhenti di pos, petugas wanita tersebut harus membungkuk 100 kali, menurut saya ini menarik, meski tidak beragama, Jepang punya kesantunan yang cukup tinggi penduduknya.

 

20 menit dari Haneda ke Nishikasai menggunakan bus, sampailah saya di Hotel Best Western, saya menginap dua hari disini, sengaja pindah-pindah biar kaya pengalaman menginap di hotel, memulai proses check-in, receptionisnya masih pintar berbahasa inggris, saya nitip koper dan mulailah traveling hari pertama di Jepang.

Pertama masih blank, tidak tahu kemana-mana, beruntung saya bertemu teman, namanya Maulana Hamzah, dia mengambil studi di Jepang, sebagai keturunan Jendral yang menghabiskan masa kecil di Amerika, bahasa Inggris dan bahasa Kanji buatnya semudah mengucapkan bahasa Jawa.

Dia yang mengajari saya tentang budaya Jepang dan kultur budayanya, dia yang mengajak pula di titik wisata  anti mainstream serta bagaimana naik transportasi di Jepang.  Setiap hari kita jalan kaki lebih dari 15 km menyusuri kota-kota di pinggiran Tokyo.

Beberapa tempat saya kunjungi mulai Asakusa, Owakudani, Hakone, Gunung Fuji, Disneyland dan beberapa taman di Jepang. Disneyland menjadi destinasi wajib buat saya,  dari 5 Disneyland di dunia 3 sudah saya kunjungi yakni Disneyland  Perancis,  Disneylang Jepang dan  Disneyland Hongkong. 

Disneyland Jepang, menyerupai Disneyland California, bagus, mulai Disneyparade sampai permainanya bisa terbilang cukup komplit.Untuk masuk Disneyland kita mesti bayar 7400 yen atau sekitar 925 ribu. Melanjutkan perjalanan hari kedua saya menuju Gunung Fuji, kami pindah dari satu kereta ke kereta lain.  Naik Subway dari dari ke Nishikasai ke Nakano lalu ke Takao dan berhenti di stasiun Otsuki. Lanjut naik kereta express Fujikyu ke stasiun Gunung Fuji. Karena sering berpindah kereta, sekarang saya hafal cara naik dan rute kereta di Jepang.  

Dari Tokyo ke Gunung Fuji menggunakan kereta ditempuh dengan waktu 4 jam perjalanan. Sayangnya, kami sampai sudah sore, dan puncak Gunung Fuji tertutup awan. 

Transportasi di Jepang dan biaya hidupnya terbilang cukup mahal, pulang dari Fuji naik shinkansen ke Tokyo dibandrol dengan 15.500 yen. Perjalanan yang harusnya 4 jam memang hanya 40 menit, namun kita musti merogoh kocek 1,9 juta untuk naik kereta super cepat ini. Sebaiknya memang menggunakan JR pass yang berlaku 7 hari itu sekitar 28.000 yen atau 3,5 juta untuk 7 hari, bisa menghemat sih, walaupun tetap mahal.

Karena Fuji, tertutup awan, esoknya saya kembali lagi ke Fuji menggunakan Bus, 2 jam  sudah sampai di pos 5, disini kita bisa melihat puncak Fuji dan Danau Kawaguchi dengan sangat Indah.

Dari Fuji saya melanjutkan perjalanan ke Hakone dan Owakudani, tempat ini bisa dibilang Gunung Ijennya Jepang, penuh dengan nuansa belerang, bedanya untuk naik ke Owakudani, kita mesti naik Gondola. Gondolanya juga keren seperti Gondola di pengunungan Alpen.

Turun dari Hakone saya naik perahu menyeberangi beberapa pos sebelum naik Shinkansen dari Stasiun Odawara. Dari Odawara ke Tokyo naik Shibkansen hanya 40 menit.


Meski mainstream, perjalanan selanjutnya mengunjungi Shibuya, tempat yang konon menjadi persimpangan paling sibuk di dunia ini memang layak buat di foto, patung Hachiko di sebelahnya juga menjadi tempat rebutan foto buat para turis. dari Shibuya saya ke Harajuku, belanja, beli perlengkapan sepatu dan baju yang tidak  ada di Indonesia.

Dari Harajuku saya lanjut ke Akihabara, bagi penggila Tamiya, disinilah kita bisa beli Tamiya yang asli Jepang. Jika belum pernah melihat Eiffel di Paris, sempatkan mampir Tokyo Tower yang merupakan mini Eiffel dan salah satu landmark terbaik di dunia yang dimiliki Jepang, dari atas Tokyo Tower kita bisa melihat kota Jepang dan puncak Gunung Fuji

Ke Jepang juga tidak afdol jika tidak menikmati makanan jepang, meski kata orang enak, saya kurang bisa menikmati makanan Jepang, Onigiri dan sejenisnya, saya lebih mencari makanan Indonesia,dan ternyata kami menemukan Ayam Penyet, 

Ayam penyet di Jepang bisa terbilang fantastis, 4.200 yen atau sekitar 500 ribu untuk makan ayam penyet es degan dan secangkir teh manis, mungkin karena mesti impor dari Indonesia, jadi harga yang dibandrol juga terbilang mahal.

7 hari tidak cukup untuk mengexplore Jepang, masih ada Osaka, Kyoto, Hokaido , Heroshima dan Nagasaki, ada Hitachi Park Seaside yang sangat terkenal di dunia yang wajib kita kunjungi.

Pergi ke Jepang sebaiknya, bulan januari sampai april, di bulan itu kita bisa bertemu bunga sakura dan salju, Gunung Fuji yang terbungkus salju akan sangat menarik jika di abadikan dalam bidikan kamera,

Butuh tiga sampai empat kali ke Jepang supaya kita mesti tahu Jepang keseluruhan. Dengan adanya E-paspor, Jepang bisa menjadi pilihan negara terjauh di Asia yang layak kita kunjungi.