Main ke “Kandang” AC Milan

Mendarat di Malpensa Airport Italia, Milan menjadi kota di Eropa pertama yang saya kunjungi. Transit di Dubai Menggunakan pesawat A380S,  pesawat impian dengan bodi besar dan segala perlengkapan canggihnya. 


Ini perjalanan ke luar negri yang paling excited menurut saya. Pertama, saya belum pernah ke Eropa. Kedua, saya bareng ibu, yang sudah tentu  berumur dan butuh kesabaran ekstra menuntunnya ke sana kemari.

Suguhan selama di pesawat yang beraneka ragam. Jika Jakarta Dubai, masih terdengar bahasa, nang ndi koen, iyo ta, tapi begitu rute Dubai Milan yang terdengar. Sorry, What's your point ? bahasa ala Cinta Laura terdengar di mana-mana. Sudah jarang saya temui orang Indonesia dalam pesawat. Hampir semuanya berambut pirang, bermata biru dan berambut putih tapi bukan uban.

Di Duomo menunjukkan pukul 09.00 kami tiba. Saya tidak melihat salju, tapi entah kenapa suhu di Milan dingin banget seperti di kutub, padahal mentari bersinar dengan terangnya. Turun dari pesawat saya mencari toilet. Bisa dibilang bersih. Untuk sekelas Milan, Bandara ini terlalu sederhana.

Mulai mencari Bagasi, ambil trolley ternyata berbayar. Untuk sebuah trolly 2 Euro atau sekitar 30 ribu. 

Kami mulai menyusuri kota Milan, kota mode dunia dengan segala pesonanya. Tujuan pertama kami adalah Katedral Milano. Sebuah bangunan Gereja yang sangat famous di Eropa. Gereja ini mampu menampung 40.000 orang di dalamnya. Sayangnya saya tidak masuk, antrinya terlalu panjang. Dari luar bangunan ini cukup genic jika difoto. Arsitekturnya benar-benar mencerminkan kemajuan peradaban Eropa jaman dulu, maklum arsitekturnya adalah Leonardo Da Vinci.

Saya berjalan menyusuri beberapa outlet, banyak penjual makanan di dekat gereja. Kalo mau beli kaos AC Milan yang asli ada di sini counter-nya, jangan ditanya harganya, mahal banget, kisaran 4 sampai 5 juta untuk jaket AC milan.

Galleria Vittorio Emanuelle II

Geser sedikit di sebelahnya ada Galleria Vittorio Emanuelle II. Dari jauh seperti tampak bangunan museum, tapi Bukan. Gallerio Vittorio adalah salah satu tempat belanja tertua di dunia.

Bagian dalam Vittorio Emanuele

Di sini saya melihat berbagai outlet branded  seperti Cartier, Prada, Gucci, Versace, Fratelli Rosseti. Bagi ibu-ibu sosialita, di sini ibarat Surga belanja menghabiskan duit. Barang-barang yang dijual tentu berkelas dan harganya melambung. Di belakang Gallerio juga ada sebuah patung berkuda, monumen Vittorio Emanuele.

Monumen Vittorio Emanuele

Saya asyik mengabadikan setiap foto di sini, tidak banyak yang kami lakukan selain berjalan jalan mengelilingi kota Milan. Jika ada yang menyebut Milan sebagai kota mode dunia memang pas. Masyarakat yang berjalan di kota Milan memang modis. Lokasi berikutnya Parco Sempione. Sebuah benteng megah. Di sini banyak burung terbang kesana kemari. Hamparan rumput hijau juga tertata dengan rapi.

 Stadion San Siro 

Pergi ke Milan tidak lengkap jika tidak berkunjung ke San Siro. Stadion “kandang” bagi klub sepakbola AC Milan.  Bangunannya cukup luas dan megah. Stadion ini mampu menampung kapasitas penonton t hingga 80.000 orang dan menjadikan San Siro stadion utama dan terbesar di Italia. Harga tiket masuk tour stadion dan museum bervariasi mulai dari 12€ (untuk usia di bawah 14 tahun, di atas 65 tahun, dan pemegang kartu Siamo Noi), 17€ (untuk orang dewasa), dan anak di bawah 6 tahun juga orang dengan keterbatasan khusus tidak dipungut biaya. Bagi yang melakukan tour dengan rombongan berjumlah 20 sampai 49 orang di patok seharga 14€ (dewasa), di atas 50 orang hanya seharga 12€ (dewasa).

Tidak lebih 10 jam kami di Milan, kami harus geser ke Negara selanjutnya, Zurich. Kami tidak bermalam di Milan. Untuk sebuah moment yang singkat, Milan cukup memberi kesan yang mendalam buat saya dan Ibu.