#CeritaAmerika Part -1

 

Sebetulnya tidak ada plan mau pergi ke Amerika Serikat, tidak pernah membayangkan juga akan datang di sebuah negara adidaya, tapi entah seperti tiba-tiba berangkat saja. Sebelum berangkat, cerita seputar Amerika sudah bersliweran di otak saya, mulai dari yang serem sampai dengan yang menyenangkan. Mulai saya baca-baca google, kisah-kisah para petualang bagaimana akhirnya dia bisa sampai sendiri di negeri Paman Sam. Memantapkan hati mulai saya mengurus Visa, kami (para traveler) menyebutnya nyawa kedua, karena jika visa ditolak itu seperti “mimpi buruk” bagi para traveler.

Mulai saya mengumpulkan syarat-syarat visa yang banyaknya udah kayak ngurus akte kelahiran, mulai dari surat referensi bank, pas photo, dan form aplikasi visa. Mengisi form dan bikin appointment dengan kedutaan di Amerika. Setelah berkas lengkap, beberapa hari kemudian saya dihubungi oleh pihak kedutaan untuk jadwal Interviewnya. Sengaja ingin mengurus proses visa ini sendiri, meski jika ditolak saya tau siapa yang harus saya hubungi, namun seperti biasa, saya tidak mau mengandalkan itu, saya ingin maju sendiri terlebih dahulu.

Datang jam 08.00 pagi di kedutaan Amerika di Surabaya yang berada di kawasan mewah Citraland. Proses mengantripun dimulai, saya lihat jejeran orang-orang Mbois, beberapa saya lihat diantaranya turun dari mobil Alphard, S500 dan kendaraan mewah lainnya, mereka ada yang ingin menjenguk anaknya yang sekolah di Amerika ataupun sekedar untuk liburan, tidak ada yang apply visa jadi TKI hehe, yang menarik  di kedutaan ini, kekayaan serasa tidak ada artinya, karena sebanyak apapun duitnya, tetap saja mereka mengantri tak berguna.

Ada 3 pos penjagaan mulai dari pos pertama, semua barang masuk kotak dan tidak ada yang boleh dibawa baik ponsel maupun tas semua harus dititipkan, cukup berkas untuk mengelola visa.

Bergantian 5 orang silih berganti, sampailah saya di depan pos kedua, masuk di kedutaan ini udah berasa Amerikanya, sejuk dan bangunannya kokoh kayak benteng Takeshi.

Perasaan campur aduk, dag dig dug udah kayak mau sidang jabatan aja, "Seorang bapak ibu yang juga mengurus menyapa saya, mau ke Amerika bagian mana mas? " Boston bu; buat sekolah mas ? enggak, liburan saja bu, sama siapa mas ? Sendiri bu, jawabku,  Masya Allah, ada saudara ? Engga ada. Kok nekat tho mas, ga papa bu, nambah pengalaman sambil baca shalawat aja, yah sudah sukses ya, ucapnya sambil memasuki ruangan interview bersamaan, secara tampilan bapak ibu itu bisa dibilang "bank berjalan", udah keliatan dari mukanya, yang sabar dan santun serta cara jalannya yg beda.

Mulailah pos 3, saya masuk di ruang tunggu buat interview, diberi nomer antrian, nomer 08, mulai agak grogi karena takut ditolak visanya, secara saya sendiri, tanpa undangan dan berangkat sendiri tanpa tour pula, komplit dah.

Giliran saya dipanggil, mulailah bule pertama, tempel sidik jari dan ngecek berkas, Okay, sebentar lagi giliran kamu wawancara di counter 5 (dengan logat cinta laura). Saya tolah toleh, ternyata wawancaranya berdiri, dan mulai lah giliran saya.

Pertanyaan si Bule :
Kenapa ke Amerika ? “mau liburan” ? Ada saudara ? “Gak ada” ? Mau kemana aja ? Boston ? Kenapa Boston ? Kenapa gak di New York, atau Las Vegas (sambil.ngecek syarat-syarat dan buku rekening) Iya nanti kali, setelah kau approve aku keliling Amerika (batinku) ? “Saya pengen ke Harvard” ? Sekolah ? “Engga” ? Ngapain ? “Saya pengen foto di depan Harvard” ? Si bule ketawa ? Okey Andik Welcome to the USA !!!

 

Ini yang patut dicontoh dari Amerika, tidak bertele-tele, jika diterima, mereka langsung memberi tahu saat itu juga dan jika ditolak mereka juga akan memberi tahu saat itu juga, biasanya kalo ditolak diberi kertas pink, dan kalo diterima diberi kertas putih. Yang menerima kertas putih dan diterima tentu pulang dengan wajah sumringah.

 

( Jedarr... senengnya ya Allah ), saya bilang “Thank you” ke petugas bule tersebut, visa Amerika  ini kebanggaaan, karena diantara seluruh visa, visa Amerika memilik kasta tertinggi, pemegang visa Amerika bisa masuk ke beberapa negara tanpa perlu visa negara tersebut, jika visa Amerika lolos kemungkian visa lain sangat mudah.
 
Pulang tak henti-henti saya bersyukur, langsung buka layanan online tiket dan mulai pesen tiket, sebetulnya pengen naik Emirates dan Qatar, bukan karena apa, biar transit di Dubai dan Qatar, lumayan, bisa sambil jalan-jalan tambahan kan, tapi ternyata mesti ke jakarta dulu, akhirnya pilihan jatuh ke Cathay Pacific, maskapai yang bermarkas di Hongkong inj juga tidak kalah hits dengan dua maskapai tadi. Jika ditanya, wah gak cinta Indonesia, kenapa gak pakai Garuda ? Hei, Bung, Garuda Indonesia belum dapat izin landing ke langit Amerika.

 
Langkah lanjutannya adalah ambil Credit Card dan mulai eksekusi tiket Cathay Surabaya Hongkong Boston dibandrol 22 juta PP. Bisa dibilang cukup murah sih, untuk penerbangan sejauh 15.143Km dengan durasi terbang 21 jam di angkasa. Secara Cathay Pacific gitu lho, pesawat berbadan besar dengan makanan yang datang tak henti-henti. Dan, Mulailah saya menyusun itinerary menuju Amerika Serikat


Kalo ditanya kenapa mesti Amerika? Hmm… Eropa sudah biasa ya, lagipula saya sudah pernah ke Eropa, banyak yang ngembarin juga, sebagai seorang PR dengan sisi-sisi jurnalis saya mencari angle yang berbeda meski hanya sebuah liburan, saya mencari tone yang menarik untuk diangkat menjadi sebuah cerita dan tidak umum, dalam artian masih jarang. Lagipula jarang banget ada orang niat pergi  ke Amerika, ini juga mematahkan opini bahwa seorang muslim  konon susah masuk ke negeri Paman Sam, ternyata  semua bisa berangkat kesana jika Allah menghendakinya. (BERSAMBUNG