25 Kilometer menyusuri Candi Di Sleman

Minggu lalu saya berkesempatan mengikuti ajang lari antar candi sejauh 25 Km dalam event Sleman Temple Run. Lewat event tersebut kita diajak menyusuri beberapa spot wisata yang ada di kabupaten Sleman. Rute yang dilalui mulai medan hutan, jalanan berbatu, lembah sampai beberapa makam. Mengambil start jam 06 pagi dari Tebing Breksi kita langsung dihadapkan pada tanjakan setinggi 800 meter. Naik turun bukit sudah serasa seperti suguhan sarapan pagi. Tantangan yang dihadapi oleh seorang pelari trail adalah dia harus tetap fokus antara lari dan memperhatikan rambu-rambu petunjuk sepanjang rute agar tidak kesasar. 

Awal saya sempet tersesat karena minimnya rambu, meski tidak terlalu jauh kesasar sekitar 1Km, angka tersebut lumayan jauh untuk kesasar rute versi trail. Seperti ajang lari pada umumnya yang menyediakan water station, Pemberhentian pertama adalah Candi Ijo.

Jujur saya baru pertama kali denger nama candi ini. Dengan background Gunung Merapi, water station pertama ini menjadi tempat  pemberhentian dengan view yang sangat sempurna di kala pagi hari. 

Ini keuntungan yang didapat dari lari event trail, selain sehat kita akan disuguhi pemandangan indah dengan rute yang tidak jamak. Meski medannya cukup berat, selfie di beberapa spot menjadi kebanggaan tersendiri dan bersyukur atas anugrah ilahi. Untuk sampai ke garis finish kita harus melewati 4 check point, dan check point kedua ada di kilometer 8 di puncak kota Sleman. Dari atas sini kita bisa melihat hamparan sawah menghijau, sesuai dengan julukan Indonesia sebagai Zamrud Katulistiwa.

Beberapa pelari bule nampak berhenti mengabadikan beberapa spot view yang dilalui. Setiap pemberhentian pos satu dengan pos lainnya diberi jarak 5 Km. Karena ajang lari tentu semua berlomba untuk menjadi terdepan dan tidak ada istilah saling menunggu. Disinilah mental kita diuji, disaat melewati hutan sendirian, sunyi dan sepi. 

Beberapa teman bilang, lari bukan hanya soal fisik namun juga mental, ada benarnya juga, karena disaat lelah menempuh jarak 25 kilometer ada rasa ingin menyerah ketika perasaan kita lelah, namun sekali lagi disinilah uji mental sesungguhnya. Ada baiknya, di saat fisik tidak kuat, sebaiknya mengambil istirahat 5-10 menit untuk mengumpulkan tenaga lagi. Tapi kita mesti melihat waktu, karena kita hanya diberi waktu 6 jam untuk sampai di garis finish.

Meski judulnya lari antar candi tapi medan yang disuguhkan cukup sadis. Pemberhentian ke-tiga di Candi Ratu Boko. Setiap pemberhentian kita disuguhi pisang, semangka dan air mineral. Naik turun bukit sampailah menjelang garis finish.

Di kilometer 24 meski kurang 1 kilometer kita diajak menaiki bukit lagi, itu rasanya seperti 1Km rasa 10 Km, tapi hebatnya, meski sepanjang lari nyeri kram kaki seperti mau meletus, namun semuanya hilang ketika masuk garis finish dan memakai baju finisher 25 Km. Yang tersisa hanyalah bangga dan  rasa syukur. Setiap event lari  selalu mengajarkan hal-hal baru, jadi jangan lupa berlari, karena tiket lari masih lebih murah ketimbang harga kamar rumah sakit.